Resiliensi Rempah Maluku Utara Hadapi Disrupsi Iklim dan Pembangunan
Perubahan iklim, tekanan pembangunan, dan dinamika sosial menjadi tantangan baru bagi keberlanjutan rempah Maluku Utara. Menyikapi hal tersebut, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian dan BRMP Maluku Utara melalui kegiatan *Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI)* Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara menggelar diskusi penguatan resiliensi populasi rempah bersama akademisi multidisiplin se-Kota Ternate, di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (18/05/2026) dan di BRMP Maluku Utara (19/05/2026).
Diskusi menegaskan bahwa ancaman terhadap pala dan cengkeh hari ini tidak hanya datang dari serangan hama atau cuaca ekstrem, tetapi juga dari alih fungsi lahan, berkurangnya regenerasi petani, hingga perubahan lanskap pembangunan. Jika tidak dikelola sejak dini, tekanan tersebut dapat memengaruhi keberlanjutan populasi rempah lokal yang selama ini menjadi identitas Maluku Utara.
Sebagai wilayah dengan jejak sejarah rempah dunia dan kekayaan plasma nutfah lokal, Maluku Utara membutuhkan strategi yang lebih adaptif. Penguatan konservasi, perlindungan sumber daya genetik, pengembangan benih unggul, hingga hilirisasi produk dipandang penting agar rempah tidak hanya bertahan secara ekologis, tetapi juga tetap bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Bagi BRMP Maluku Utara, menjaga rempah berarti menjaga sejarah, biodiversitas, sekaligus masa depan ekonomi petani Maluku Utara.